Wednesday, February 16, 2011

My NEW website

My NEW website

hahahahahahahahahahahahaha

gillllaaaaaaaaaaaa!!!!!!

proyek website gue akhirnya selese jugaaa!!!!!!! gila gila gila gila gila gila!!!

tadinya gue dah pesimis banget n nyangka kalo website ini ngak bakalan selese2. terlalu banyak yang gue pengenin… jadinya terlalu banyak hal yang pengen gue masukin dalam satu time frame….

tapi, setelah pikir2…. keliatannya memang ada beberapa hal yang perlu gue tunda pelaksanaannya karena memang belum ada support teknisnya. bukan masalah writting the code… tapi lebih pada operasional MK-Photography itu sendiri.

tapi…. gue pasti dan akan upload website yang bener2 sesuai dengan apa yang gue pengen. sekarang ini, gue kompromi dulu aja…. yang penting website dah jalan….

so… guys…. please check out my latest baby….

http://www.mk-photography.biz/

dan dont forget to order hahahahahaha……


This entry was posted on Saturday, March 4th, 2006 at 8:11 am and is filed under MK-Photography

Ronggowarsito

Ronggowarsito

sebuah copy-paste atas ijin dari
http://imelati.tripod.com/Imel/
————————————–

Ronggowarsito

Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan `warisan piwulang yang sangat berharga’ berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.

R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.

Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.

Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.

Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.

Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan ‘klitikan’ (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya.

Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.

Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.

Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :

Pertama : Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas.
Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan menjadikan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.

Kedua : Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa.

Ketiga : Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.

Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.

Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.

Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24. Inalilahi waina ilahi rojiun.*

Puniko serat jongko joyoboyo

Puniko serat jongko joyoboyo

sebuah copy-paste dari dan atas seijin…
http://imelati.tripod.com/Imel/
———————————————

Jaman Edan … lagi

Umpami panjenengan anemoni kahanan dunyo ingkang kados kasebat ing jangka jayabaya (jongko joyoboyo), lan umpaminipun jongko joyoboyo puniko leres, ateges….kito sapuniko pancen-pancen urip wonten ing jaman edan.

Puniko serat jongko joyoboyo :
Pancen amenangi jaman edan, sing ora edan ora kaduman. Sing waras padha nggragas, sing tani padha ditaleni. Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada. Ratu ora netepi janji, musna prabawane lan kuwandane. Akeh omah ing ndhuwur kuda. Wong mangan wong, kayu gilingan wesi padha doyan rinasa enak kaya roti bolu.

Yen bakal nemoni jaman:
akeh janji ora ditetepi, wong nrajang sumpahe dhewe. Manungsa padha seneng tumindak ngalah tan nindakake ukum Allah. Bareng jahat diangkat-angkat, bareng suci dibenci. Akeh manungsa ngutamakake reyal, lali sanak lali kadang. Akeh bapa lali anak, anak nladhung biyunge. Sedulur padha cidra, kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh, manungsa lali asale. Rukun ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat jahil.

Makarya sing apik manungsa padha isin. Luwih utama ngapusi. Kelakuan padha ganjil-ganjil. Wegah makarya kapengin urip, yen bengi padha ora bisa turu. Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan. Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara.

Sing edan bisa dandan. Sing mbangkang bisa nggalang omah gedhong magrong-magrong. Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil. Sing ora bisa maling padha digething. Sing pinter duraka padha dadi kanca.

Wong bener thenger-thenger, wong salah bungah-bungah. Akeh bandha muspra ora karuwan larine. Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe. Bumi saya suwe saya mungkret. Bumi sekilan dipajegi.

Wong wadon nganggo panganggo lanang. Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu, ngumbar angkara murka, nggedhekake duraka. Wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat. Wong agung kesinggung, wong ala pinuja-puja. Wong wadon ilang kawanitane, wong lanang ilang kaprawirane.

Akeh jago tanpa bojo. Wanita padha ora setya, laku sedheng bubrah jare gagah. Akeh biyung adol anak, akeh wanita adol awak. Bojo ijol-ijolan jare jempolan. Wong wadon nunggang jaran, wong lanang numpang slendhang pelangi.

Randha loro, prawan saaga lima. Akeh wong adol ngelmu. Akeh wong ngaku-aku, njaba putih njerone dhadhu. Ngakune suci, sucine palsu. Akeh bujuk. Wektu iku dhandhang diunekake kuntul. Wong salah dianggep bener, pengkhianat nikmat, durjana saya sampurna. Wong lugu keblenggu, wong mulya dikunjara, sing curang garang, sing jujur kojur.

Wong dagang keplanggrang, wong judhi ndadi. Akeh barang kharam, akeh anak-anak kharam. Prawan cilik padha nyidham. Wanita nglanggar priya. Isih bayi padha mbayi. Sing priya padha ngasorake drajate dhewe. Wong golek pangan kaya gabah den interi.

Sing klebat kliwat, sing kasep keplesed. Sing gedhe rame tanpa gawe, sing cilik kecelik. Sing anggak kalenggak. Sing wedi padha mati, nanging sing ngawur padha makmur, sing ngati-ati sambate kepati-pati. Cina olang-aling kepenthung dibandhem blendhung, melu Jawa sing padha eling. Sing ora eling padha milang-miling, mloya-mlayu kaya maling, tudang-tuding. Mangro tingal padha digething.

Eling, ayo mulih padha manjing. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman-eman ora kaduman, sing kaduman ora aman. Selot-selote besuk ngancik tutupe taun, dewa mbrastha malaning rat, bakal ana dewa angejawantah, apangawak manungsa.

Apasuryan padha Bathara Kresna. Awewatak Baladewa. Agegaman trisula wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar. Utang nyawa nyaur nyawa, utang wirang nyaur wirang. Akeh wong cinokot lemud mati.

Akeh swara aneh tanpa rupa. Bala prewangan, makhluk alus padha baris, padha rebut bebener garis. Tan kasat mata tanpa rupa, sing mandhegani putra Bathara Indra, agegaman trisula wedha. Momongane padha dadi nayakaning prang, perange tanpa bala, sekti mandraguna tanpa aji-aji. Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk, tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi.

Parak esuk banter, ilange katut Bthara Surya, jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur. Prihatine kawula kelantur-lantur. Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa lagi tumeka ing ngarcapada, ambiyantu wong Jawa. Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan. Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca, arupa gupon dara tundha tiga. Kaya manungsa asring angleledha, apeparab Pangeraning Prang, tan pakra anggone anyenyandhang, nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang. Sing padha nyembah reca ndhaplang, cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang.

Putra kinasih swarga Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho. Ngerehake sakabehing para jim, setan, kumara, prewangan. Para lelembut kabawah prentah saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa. Padha asenjata trisula wedha, kadherekake Sabdopalon Nayagenggong. Pendhak Suro nguntapake kumara, kumara kang wus katam nebus dosanira, kaadhepake ngarsane kang Kuwasa. Isih timur kaceluk wong tuwa, pangiride Gathutkaca sayuta. Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati. Ora tuwa ora enom, semono uga bayu wong ora ndayani. Nyuwun apa bae mesthi sembada, garise sabda ora gantalan dina.

Begja-begjane sing yakin lan setya sabdanira. Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa, nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa. Bisa nyumurupi laire embahira, buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina. Ora bisa diapusi amarga bisa maca ati. Wasis wegig waskitha ngreti sadurunge winarah, bisa priksa embah-embahira, ngawuningani jaman tanah Jawa.

Ngreti garise siji-sijining umat, tan kalepyan sumuruping gegaman. Mula den udia satriya iki, wus tan bapa tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa. Mula ngendelake trisula wedha, landhepe trisula : pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran. Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku. Senenge anyenyoba, aja kaina-ina.

Begja-begjane sing dipundhut, ateges jantrane kaemong sira sabrayat. Ingarsa begawan wong dudu pandhita. Sinebut pandhita dudu dewa. Sinebut dewa kaya manungsa, kinen kaanggep manungsa sing seje daya. Tan ana pitakonan binalekake, tan ana jantra binalekake. Kabeh kajarwakake nganti jlentreh gawang-gawang terang ndrandang.

Aja gumun aja ngungun, yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun, tur isih kuwasa nundhung setan. Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh. Ya siji iki kang bisa njarwakake utawa paring pituduh jangka kalaningsun. Tan kena den apusi amarga bisa manjing jroning ati. Ana manungsa kaiden katemu, uga ora ana jaman sing durung kalamangsane.

Aja serik aja gela iku dudu waktunira, ngangsua sumur ratu tanpa makutha. Mula sing amenangi gek enggala den luru, aja nganti jaman kandhas. Madhepa den amarikelu. Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada, ing jaman Kalabendu nyawa. Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa, dewa apangawak manungsa. Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara.

Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha. Iku paringe dewa. Ngluruge tanpa wadyabala. Yen menang datan ngasorake liyan. Para kawula padha suka-suka amarga adiling Pangeran wus teka. Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha. Para pandhita ya padha ngreja, yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.

———
Para sederek kula sedoyo, meniko serat jongko Joyo Boyo kirimanipun sederek Bambang Agianto. Kulo kinten puniko serat pantes kito penggalih kanthi lereming lan kanthi pengglih ingkang lebet. Pancen sakwatawis dinten kepengker Negoro kitho kateman ontran-ontran lan pacoben ingkang awujud mindhakipun sandang pangan. Sakmangkeh, milo pancen kawontenan negari mboten tebih kaliyan ingkang sampun dipun gambaraken wontening jangko Jayoboyo puniko

KISAH PELACUR YANG MEMBUNUH TUHANNYA

KISAH PELACUR YANG MEMBUNUH TUHANNYA

Senja itu senyap ketika angin mendesir menerbangkan daun yang gugur perlahan. Pelacur itu mengutuk nasibnya. Dua hari lalu rekannya mati Dengan mengerikan. Saat pemakaman jenazahnya tak bisa masuk liang. Tubuhnya tiba-tiba memanjang sehingga panjangnya melebihi ukuran liangnya. Menurut orang-orang tua ia dikutuk oleh langit dan bumi.
Setelah didatangkan seorang kyai barulah jenazahnya bisa dimakamkan. Peristiwa itu demikian membekas di hatinya hingga terbitlah sesal. Sejak itu ia selalu murung saja memikirkan masa depannya. Dan sejak itu juga dia ingat kembali masa-masa kecilnya.

Dulu ia bersama teman-temannya biasa ke surau untuk mengaji selepas maghrib. Ia dulu sering ikut majelis taklim. Ia dulu rajin berpuasa, tarawih dan ikut membantu menyiapkan sahur untuk keluarga. Tapi sejak ia menikah dengan tetangga desanya nasibnya menjadi berubah. Suaminya ternyata penipu, pemabuk dan penjudi. Ketika seluruh hartanya habis di meja judi, ia menjual istrinya ke seorang germo. Dan, singkat cerita, sejak itulah dia menjadi seorang pelacur.

Dan kematian rekannya itu menjadikannya merasa berdosa, sangat berdosa. Ia ingat ajaran ustad-ustadnya di kampung dulu, tentang siksa neraka bagi pelacur seperti dirinya. Ia dulu pernah membaca cerita bergambar yang mengisahkan siksa neraka, di mana para pelacur kemaluannya ditusuk dengan besi panas di dalam ruang api yang menyala-nyala.

Dan di senja yang senyap itu ia sangat sedih, ia merasa tak lagi berharga di mata Tuhan. Pikirannya penuh dengan bayang-bayang murka Tuhan. Ia lalu ingat lagi masa remajanya. Dulu ustadnya dengan hidup menceritakan bagaimana Tuhan menyiksa para pendosa dengan kejam. Tuhan mengawasi setiap tindak-tanduk manusia, memerintahkan malaikat mencatat segala amalnya, dan menghukum atau memberi kenikmatan yang tak terhingga. Dan di senja itu juga ia sangat murung. Setelah berpikir cukup lama ia memutuskan pergi mencari ulama untuk meminta nasihatnya.

Maka esok harinya ia meminta ijin pada germonya untuk berbelanja. Tapi Tentu saja ia tak berbelanja, ia pergi ke mesjid terdekat. Menemui ulama di sana, dan tentu saja hujan nasihat menyiram pikirannya. Dan demikianlah ia berjalan dari satu mesjid ke mesjid lainnya, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya. Dan hujan nasihat itu semakin deras. Semuanya mirip, tentang ampunan dan janji sorga, dan, lagi-lagi, tentang neraka yang mengerikan, tentang Tuhan Yang Maha Adil yang memberi balasan setimpal atas hamba-hambanya; dia harus bertobat, kembali ke jalan lurus, banyak salat, dan istighfar.

Tapi itu semua tak bisa menentramkannya, sebab setiap kali ia salat, istighfar, bayangan murka Tuhan dalam bentuk siksa neraka selalu saja Hadir di pikirannya.
Kembali dia mengutuki nasibnya. Maka hatinya gundah, dan tetap saja ia masih merasa kotor di hadapan Tuhan.

Ia selalu ingat siksa neraka itu. Hingga akhirnya setelah beberapa minggu tak juga merasa tenang ia memutuskan tak lagi mencari ketenangan itu . Ia selalu ingat siksa Tuhan di neraka. Ia tak lagi yakin ada ampunan dari-Nya karena bayangan siksa-Nya yang demikian kejam terus saja menghantuinya, karena ia masih melacur, lagipula ia tak ada pekerjaan lain selain melacur karena ia tak punya keahlian lainnya - jadi bagaimana mungkin ia diampuni jika bertobat tetapi mengulangi kesalahan yang sama; tapi jika ia tak melacur ia pasti kelaparan. Ia merasa tak punya pilihan lain, hingga akhirnya ia secara tak sadar telah menarik kesimpulannya sendiri tentang Tuhan: Dia adalah Yang Maha Keras di dalam Maha Keadilan-Nya. Dia adil, dan menepati janji, maka tentunya siksaan itu pasti dijatuhkan. Dirinya telah ditakdirkan menjadi pelacur selamanya dan karena itu akan tetap bergelimang dosa. Dengan pikiran begitu ia patah semangat. Pikirannya kalut dan akhirnya ia nekat hendak bunuh diri. Ya, bunuh diri! Bukankah sama saja mati nanti dengan mati sekarang, toh hukuman sudah menanti. Memang benar dia pernah dengar sifat-Nya yang Maha Pengampun. Ia memang pernah dengar bahwa sebelum nyawa sampai ke kerongkongan ampunan-Nya masih terbuka. Akan tetapi ia juga pernah mendengar bahwa manusia berdosa mesti masuk neraka dulu untuk disucikan dari kotoran-kotoran dosanya, baru diangkat ke sorga. Jadi, pikirnya, mungkin, sekali lagi mungkin, dirinya akan diampuni, tetapi tetap saja ia mesti masuk neraka, sebab Tuhan Maha Adil dan Menepati Janji. Lagipula tak ada jaminan ia masih hidup esok hari, dan tak ada jaminan dia akan mati dalam keadaan telah bertobat.

Selain itu cap dirinya sebagai pelacur sungguh sulit dihapuskan. Bahkan kalau ia meninggalkan dunia pelacuran ini, sebutan “bekas pelacur” tetap saja memalukan. Bahkan di dunia ini sesungguhnya dia telah dihukum secara sosial dan psikologis. Bahkan di dunia ini dia sudah dihukum! Jadi Sekali lagi, hukuman itu tampak sebagai sebuah keniscayaan.

Sekarang ia harus memikirkan cara bunuh diri yang paling efisien dan tidak menyakitkan. Gantung diri jelas tak nyaman. Terjun dari gedung bertingkat juga tak mungkin sebab dia takut ketinggian. Ini persoalan serius, ia harus memikirkannya masak-masak. Dan malam ini, sambil melakukan Pekerjaannya melayani lelaki, pikirannya sibuk memikirkan cara bunuh diri secara efisien dan tak menyakitkan. Dan pada dini hari sekitar jam 4 dia sudah menemukan caranya.

Dua hari kemudian ia pergi dari lokalisasi ke desa di selatan kota yang sering dikunjunginya jika dia stres untuk melaksanakan niatnya. Di ujung desa itu terdapat lembah ngarai yang pemandangannya sangat indah. Di sebelah timur ngarai itu terdapat hutan lebat, dan gunung yang tak begitu tinggi. Saat matahari muncul dari balik gunung itu sinar emasnya meluncur seperti lempengan emas menerpa dedaunan pepohonan hutan itu.

Sementara itu kabut merayap naik dari ngarai lalu dengan pelan dan halus menyelimuti hutan dan lubang ngarai yang menganga itu. Meski di atas ngarai, ia tak merasa berada di ketinggian jika kabut itu sudah menutupinya, sebab nanti hanya akan tampak hamparan permadani putih membentang di atas ngarai. Karenanya dia bisa berjalan ke permadani itu dan, tentu saja, ia akan jatuh ke ngarai yang curam dan berbatu. Sungguh tempat ideal untuk bunuh diri. Saat pelacur itu sampai di tempat itu di pagi hari, ngarai tersebut sudah hampir tertutup oleh kabut, dan permadani putih itu sudah terbentuk. Keadaannya sepi, dan hanya desir angin yang mengisi kekosongan. Dia tinggal menunggu beberapa saat lagi, dan terlaksanalah rencananya, tanpa harus takut.

Demikianlah, ketika permadani itu sudah terbentuk, ia menarik nafas panjang, mengepalkan kedua tangan, ditegakkannya kepala dan punggungnya, lalu dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan ke bibir ngarai.Angin masih berdesir,dan di atas seekor burung melayang seolah ingin menyaksikan detik-detik yang mendebarkan ini. Langit biru cerah, udara dingin,sepi, dan langkah kakinya terdengar berdetak keras saat menapak tanah. Dalam hitungan detik ia sampai di bibir ngarai. Ia tak menatap ke bawah, hanya memandang permadani putih itu. Sejenak ia tampak bimbang, bibirnya terkatup. Lalu dipejamkan matanya dan seiring hembusan angin ia mengangkat kakinya maju ke depan…Di kejauhan terdengar suara cicit burung. Daun gemerisik disentuh angin. Bukk… pelacur itu terjerembab… ke belakang! Di saat yang menentukan itu sebuah tangan menarik badannya dengan keras. Jadi ia tak jadi mati.

Pelacur itu meringis kesakitan, lalu menoleh ke belakang. Di lihatnya seorang lelaki setengah baya, sedikit beruban, memanggul ikatan rumput, dengan sabit di pinggangnya. Lelaki itu tersenyum. “Kenapa?” tanyanya pelan, sambil meletakkan ikatan rumput, lalu menolong pelacur itu berdiri. Pelacur itu, setelah terhenyak heran sejenak, merasa kecewa, sedih dan marah, lalu duduk di atas tanah. Kemudian terdengar isak tangis di kesunyian. Lelaki itu membiarkannya menangis. Setelah beberapa lama isak itu semakin pelan, lalu berhenti sama sekali.

“Kenapa?” kembali ia bertanya. Pelacur itu hanya diam. Angin menderu sedikit lebih kencang. Setelah beberapa lama ia mendesah. “Mengapa paman selamatkan aku?”
protesnya.

“Aku hanya mengikuti kata hati. Bunuh diri itu perbuatan buruk, maka aku mencegahmu. Tampaknya kau menanggung beban persoalan yang sangat berat hingga kau berbuat nekat. Ceritakanlah, barangkali aku bisa meringankannya.”
“Tak usahlah paman. Aku sudah berminggu-minggu mencoba menguranginya, tapi itu bahkan menambah bebanku. Lagipula aku tak ingin membebani paman dengan persoalanku.”

Lelaki itu tersenyum. “Mari duduk. Ceritakan saja, aku tak kan merasa terbebani.” Setelah ragu sejenak, pelacur itu menurut. Ia duduk di atas batu, sedangkan lelaki itu duduk di depannya, juga di atas batu.

Hening sesaat. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya. Angin bertambah kencang, kabut itu mulai tersingkap dan permadani itu perlahan-lahan terurai,menyingkapkan dasar ngarai. Rambut pelacur itu berkibar, dan beberapa helai menutupi wajahnya.Burung di langit itu masih berputar, seperti tak hendak melewatkan peristiwa ini. Kemudian, sambil menyibakkan rambut yang menutup wajahnya itu, dia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. Lalu ia mulai menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari awal hingga akhir.

Setelah selesai, pelacur itu menunduk lagi, dan tak terasa matanya kembali berlinang. “Hmm, jadi itu persoalannya. Jadi kau yakin Tuhan, walau mungkin akan mengampunimu, Dia tetap akan menghukummu atas dosa-dosamu. Sungguh adil Tuhanmu itu, tetapi Dia juga sungguh keras. Tak memberimu pilihan selain melacur, hmm, Dia sungguh keras.”

Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Di atasnya, burung itu masih berputar, lalu meluncur turun ke pepohonan hutan.Sementara itu kabut sudah semakin tipis, dan matahari mulai mengirimkan hawa panasnya. Tetapi angin masih kencang.

“Aku mau bertanya, seandainya ada orang yang membebaskanmu dari dunia pelacuran, apakah kau masih yakin Tuhan akan menghukummu?”

Sejenak pelacur itu berpikir. “Ya,” jawabnya.
“Mengapa?”
“Sebab aku terlampau kotor, dan hanya api neraka saja yang bisa menghapusnya. Bukankah Dia itu Hakim Maha Adil? Tentunya kesalahan tak dihapus begitu saja.
Bukankah menurut kitab suci yang pernah aku baca perbuatan buruk sebesar zarah sekalipun akan mendapat balasannya?”

“Jadi menurutmu Tuhan itu bagaimana?”
“Dia Maha Adil. Dia pasti menepati janji. Aku ingat dulu ustad di desaku mengatakan begitu. Dia akan menghukumku…” sampai di sini dia menangis lagi.

Lelaki itu menggelengkan kepalanya. tampak jelas dia begitu masygul.”Terlalu banyak orang yang seperti dia” katanya dalam hati. Tapi ia sadar bahwa pelacur itu sudah banyak mendapat nasihat, jadi dia merasa tak perlu memberinya nasihat lagi. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang sejenak dia berkata:”Kau tertekan sekali. Hidupmu demikian pedih karena Tuhanmu menghendaki begitu, kan? Tak memberimu pilihan selain melacur, dan tentu akan menghukummu,” katanya, mengulang kata-katanya yang tadi telah diucapkan. Sambil terisak pelacur itu mengangguk, “Ya, Dia tak memberiku banyak pilihan.” “Jadi kalau begitu Tuhanmu itulah sumber masalahnya,sebab Dia-lah yang menjadikanmu tertekan begini.”

Mendengar ini, pelacur itu agak ragu. Benarkah Tuhannya yang menjadi sumber masalah? Benarkah takdir-Nya yang menciptakan semua persoalan yang menimpanya kini? Ia jadi bimbang, tak tahu apa yang mesti dikatakan. Seketika pikirannya kosong, kalut. Ia jadi takut sendiri. Apakah takdir Tuhan yang mempermainkannya? Ia tiba-tiba ingat betapa para lelaki di lereng Merapi yang tidur lelap bersama istri mereka yang sah tersapu oleh hawa panas dan desa mereka hancur, sementara itu para lelaki kaya yang selingkuh dan menidurinya tak tersentuh sama sekali oleh bencana ini. Apakah penduduk desa itu lebih jahat daripada elaki kaya yang menidurinya? Apakah penduduk desa itu lebih bejat moralnya ketimbang penduduk kota?

Apakah perbuatan maksiat di sana lebih banyak dan lebih dahsyat ketimbang di kota? Jika tidak, kenapa bencana itu menimpa mereka? Ia lalu membandingkannya dengan nasibnya sendiri. Ia ingat bekas suaminya, ia ingat germonya. Ia ingat maka kecilnya. Ia ingat suara anak-anak desa yang mengaji. Ia ingat penduduk desanya yang rajin bertani, mencari nafkah secara halal, tetapi tak kunjung makmur. Ia ingat lelaki yang menidurinya, yang mencuri, korupsi tetapi hidupnya makmur. Jadi di mana keadilan Tuhan? Jadi apakah Tuhan selama ini hanya mempermainkan manusia? Lagipula, adakah jaminan penduduk yang tertimpa bencana itu masuk sorga? Siapakah yang bisa memastikan para lelaki yang menidurinya itu kelak mati sebelum bertobat? Dan kepalanya seperti melayang,ia bingung. Tapi ia menjadi jengkel, sebab lelaki ini justru menambah persoalan bagi dirinya. Bukankah lebih baik dia mati tadi?

“Jika menurutmu Tuhan itu sumber masalah, kau abaikan saja Dia, atau… “sejenak dia berhenti. Lalu dengan pelan berkata sambil tersenyum misterius:”Bunuhlah Dia. Kujamin masalahmu hilang,” Dan pelacur itu kaget lalu bertambah jengkel. Membunuh Tuhan? “Apa maksud paman?” “Ya, tinggalkan dia. Hiduplah tanpa Tuhan.”

Pelacur itu jadi ragu, jangan-jangan lelaki ini tak waras. Tapi, setelah berpikir agak lama, rasanya anjurannya tampak masuk akal. Jika ia tak memikirkan Tuhannya lagi, tak memikirkan sorga neraka, tentunya ia tak perlu takut lagi, walau hati kecilnya masih cemas tentang keadaannya setelah mati.

Tetapi jika ia tak takut lagi kepada Tuhannya yang keras itu, bukankah ia dapat hidup dengan lebih nyaman dan tenang? Ketidakpastian nasibnya di akhirat akan lenyap, sebab ia telah membunuh Tuhan yang menguasai dunia-akhirat. Memikirkan hal ini, seketika hatinya menjadi tenang, terbitlah terang di pikirannya. Ya, ia akan bunuh atau tinggalkan saja Tuhannya itu. Ia akan menapak hidup ini dengan riang dan bebas dari beban dosa dan kecemasan akan murka-Nya. Ia merasa bebas.
Langit masih biru, awan mulai berarak dan tiupan angin menyusut. Daun gemerisik di kejauhan.

Jadi demikianlah, pelacur itu, setelah berterima kasih kepada lelaki itu, pulang ke lokalisasi. Dia kini merasa siap menentukan nasibnya sendiri. Ia tak mau tunduk pada takdir yang menetapkannya jadi pelacur. Karena ia sudah membunuh Tuhan, bukankah takdir itu sudah tak berlaku lagi? Maka dengan mantap ia bilang kepada germonya untuk berhenti sebagai pelacur. Ia siap cari kerja lagi, apa saja, asal bukan melacur. Pikirannya kini dipenuhi banyak rencana, dan seiring dengan semakin tenangnya pikirannya itu, ia merasakan banyak kesempatan terbuka lebar di hadapannya. Ia punya rencana jadi TKW, atau pembantu domestik. Ia juga punya rencana untuk membuka warung makan. Modalnya bisa pinjam temannya. Pokoknya sejak ia membunuh Tuhan, pilihan tak lagi terbatas. Ia tak lagi hanya punya pilihan melacur!

Takdir-Nya sudah dihancurkan! Ah, benar sekali nasihat lelaki itu: membunuh Tuhan yang jadi sumber masalah. Kenapa tidak dari dulu saja! Kini ia jadi pembantu.
Sekarang dia tenang dan bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Pagi itu ia merasa dadanya sangat lapang.

Majikannya akan pergi selama seminggu, dan dia boleh pergi ke mana saja selama seminggu ini. Dia ingin berlibur, dan tempat pertama yang muncul di pikirannya adalah ngarai itu. Ya, ngarai yang mengubah jalan hidupnya. Pagi buta dia berangkat. Setelah tiga jam sampailah dia di sana. Pemandangannya masih sama, masih sepi dan masih berangin. Hanya saja burung yang berputar di angkasa tak ada. Ia duduk di batu tempat dia berbincang dengan lelaki itu. Ia tersenyum ketika mengenang pertemuan itu. Angin dingin kembali berhembus, menyejukkan wajahnya, dan angin itu juga yang menyibakkan rambut menutupi wajahnya. Ia memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam,seolah-olah hendak menghisap masuk semua kesunyian yang tenang itu ke dalam hatinya, seolah hendak menyimpannya dalam hati. Tiba-tiba dia merasakan sentuhan di bahunya.

Saat membuka mata dia melihat lelaki yang dulu itu sudah berada di depannya. Tapi kini ia tak membawa ikatan rumput, hanya sabit di pinggangnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, dengan senyum yang masih sama seperti yang dulu.

Kini bekas pelacur itu membalas senyum itu dengan senyum pula. “Jauh lebih baik. Aku merasa lebih bahagia dan tenang. sekali lagi, terima kasih atas nasihat paman,” sahutnya ramah. “Oh ya? Ceritakanlah padaku. Berbagilah kebahagiaanmu denganku.” Lalu lelaki itu duduk di atas batu tepat di depannya. Persis seperti pertemuan pertama dulu. Kali ini bekas pelacur itu tak ragu lagi untuk menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari sejak pertemuan pertama sampai pertemuan yang sekarang. Dan lelaki itu tertawa kecil, mengangguk-anggukan kepalanya. “Hmm, kau telah menemukan ganti atas Tuhanmu yang kau bunuh dulu. Kau telah menemukan Tuhan baru.” Bekas pelacur heran mendengar ucapannya. Mendapatkan ganti Tuhan yang baru? Memangnya ada berapa banyak Tuhan itu? “Apa maksudmu?”

“Apakah kau tahu bahwa Tuhan itu tunduk kepada pikiran orang?” Perempuan itu menggeleng, dan bertambah heran. Lelaki itu bangkit berdiri, menatap hamparan langit, lalu berkata: “Dulu kau menundukkan Tuhan dengan pikiranmu. Kau jadikan dia Tuhan yang Adil dan Keras. Tuhan yang tak memberimu pilihan. Maka Tuhanpun menuruti keinginanmu. Jadi bukan Tuhan sumber masalahmu, tapi kau sendiri.” Seketika itu juga pikirannya kembali kosong, tapi kini tak kalut lagi.

Ia lalu lagi-lagi ingat dulu waktu kecil saat mengaji kitab-kitab agama, ustadnya membacakan hadits qudsi, yang artinya kurang lebih menyatakan bahwa Tuhan itu adalah sesuai dengan anggapan dan pikiran orang, karena itu orang mesti berbaik sangka kepada-Nya. Kini kepalanya kembali melayang, tapi ia tak bingung lagi, juga tak jengkel lagi. Tiba-tiba dadanya bertambah lapang. Ia merasa bahagia karena telah mendapatkan Tuhan yang sama sekali lain dengan yang dulu. Tuhan yang membebaskan, memberi banyak pilihan, ampunan.

Dia tiba-tiba merasa Tuhannya yang sekarang jauh lebih ramah dan pengasih. Dia memberinya kebebasan dari pelacuran. Dia tiba-tiba sadar musibah yang berwujud rasa tertekan yang dulu menimpa dirinya bukan hanya sekedar musibah. Dia ingat musibah di lereng merapi. Dia ingat lelaki korup tapi makmur yang menidurinya. Dia ingat penduduk desa yang bekerja keras dan halal tapi tak juga makmur. Kini ia memandang itu semua secara berbeda.

Takdir tak mempermainkan! Ya, takdir tak mempermainkan manusia. Manusialah yang bermain-main dengan takdirnya sendiri. Sungguh sulit dijelaskan, tapi pengalamannya mengatakan begitu. Bekas pelacur itu tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum, dan setelah mengucap salam dia pergi, mencari rumput dengan sabitnya yang terselip di pinggang. Sejenak kemudian bekas pelacur itu tiba-tiba seperti mendengar panggilan shalat. Dan kali ini hatinya bergetar, sebab hatinya rindu ingin segera menemui dan bercakap-cakap lebih banyak dengan Tuhannya yang baru ini.

Hayya alal falah….panggilan itu kembali bergema di kalbunya. Angin masih semilir, daun gemerisik pelan di tengah sunyi. Pelan sekali…

JANUARI’2002 ~ Tri Wibowo BS ~ **milist daarut-tauhid**

Peran

Peran

Setiap manusia di bumi ini memiliki sebuah tugas, peran, lakon, amanat, atau apa pun sebutannya…..

Hal itu, hampir semua manusia mengetahuinya….

Hal yang menjadi masalah adalah, tidak semua manusia bisa menyadari lakon apa yang ia perankan di muka bumi ini. Dan saya termasuk salah satu diantara mereka.

Terkadang, kita diberikan sedikit petunjuk-petunjuk dari kehidupan kita sehari-hari.

Lebih seringnya, kita telah diberi petunjuk-petunjuk, akan tetapi kita tidak menyadarinya sampai kita telah melakukannya selama beberapa tahun. Atau, kita menyangkal kesimpulan yang sudah dapat kita ambil, karena lakon yang diamanatkan tidak sesuai dengan keinginan hati dan ego.

Lalu, suatu saat, kita melalui suatu kejadian yang menampar keras ego kita dan membuka mata kita sehingga segala pertanyaan-pertanyaan yang telah ‘menghantui’ kita selama ini dapat dijawab dengan amat mudahnya.

Beruntunglah bagi orang-orang semacam itu…. karena saya masih mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang membuat gambaran lakon yang saya jalani, kurang lengkap. Harus saya akui, beberapa bulan dan tahun terakhir ini, lakon yang perlu saya jalani sudah mulai ‘terbaca’. Akan tetapi, saya masih belum bisa secara gamblang melakukan lakon yang diamanatkan kepada saya, apalagi BAGAIMANA menjalankan amanat tersebut.

Mungkin juga, karena saya memang belum mau mengetahuinya….
Mungkin juga, karena ketakutan saya akan tanggung jawab yang ‘akan’ saya emban….
Mungkin juga, karena saya tidak merasa pantas atas tanggung jawab tersebut….
Mungkin juga, karena saya hanya mencari-cari alasan….

Semuanya hanya mungkin…….
Semuanya hanya akan terjawab….. bila saya… “jalanin aja Mad!” dan “Yang suruh mikir, tuh siapa??”

SMS dan puasa

SMS dan puasa

hanya untuk mencatat sebuah SMS yang dikirimkan seorang teman untukku. karena udah agak2 lupa, ini hanya kira2 bunyinya seperti ini… tanpa menghilangkan pesan yang ada…

“Mas, hubungan yang patut kita cemburu adalah hubungan Allah dengan kekasihNya, Muhammad. Sang Muhammad selalu shalat untuk mengingat-ngingat namaNya. Sedangkan Allah selalu bershalawat untuk mengingat-ngingat nama Muhammad. sungguh indah hubungan pacaran mereka…”

di bulan puasa ini, saya sering merasa geli. out of the blue, semua orang jadi rajin mengerjakan perintah puasa ini. orang yang tidak menjalankan puasa dianggap tidak islam.

sedangkan kalau kita ingat2 lagi, dasar fondasinya islam ada 5:
- syahadat
- shalat
- puasa
- zakat
- haji

sebelum menjalankan shalat, apakah syahadat kita sudah benar? dalam hal ini, apakah kita sudah benar-benar meresapi makna dari sumpah tersebut…. menyatakan bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada Sang Allah, Sang Gusti. dan menyatakan bahwa pembawa amanat Sang Gusti adalah Muhammad.

dari situ saja sudah banyak makna yang bisa kita ambil. allah-nya siapa?? allah-nya orang arab?? atau Allah, yang Sang Pencipta, The All Mighty, Gusti Kang Murbeng Dumadi??

dan muhammad di situ, juga bisa dimaknai sebagai muhammad yang orang arab itu?? atau Nur Muhammad?? sang hati nurani??

mempelajari pondasi yang pertama saja saya ini masih belum mampu…..

menjalankan pondasi kedua…. apalagi….

antara kemalasan… keinginan untuk dikatakan islam…. hingga keinginan seorang manusia untuk ‘curhat’ kepada Pencipta-nya. sambat kalo orang jawa bilangnya….

puasa?? ini yang membuat lucu……
orang yang sehari-harinya tidak shalat…. alih-alih mengetahui makna dari shalat…. lalu dengan semangatnya, puasa, menahan lapar dan haus. tanpa mengetahui, kenapa ia harus menahan lapar dan haus. tanpa mengetahui, apa makna lapar…. dan apa makna haus….

lalu, dengan semangatnya…. mengajak teman2 lama yang sebelumnya tidak pernah ada hubungan dalam setahun sebelumnya…. untuk buka puasa bersama…. bersenang-senang bersama…. merayakan kemenangan manusia telah menahan lapar dan haus pada hari itu…..

geli….. maaf…. tapi itulah yang saya rasakan…. geli…. aneh….